SiMoDIS Tingkatkan Kepatuhan Pelaku Bisnis Ekspor Dan Impor

Sebagai negara yang memiliki banyak Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, Indonesia sudah dikenal sebagai negara pengekspor ke berbagai negara. Selain itu, luasnya pasar Indonesia dan juga potensial membuat bisnis impor tumbuh dengan subur hingga saat ini. Negara Cina menjadi salah satu negara yang banyak mengimpor masuk ke Indonesia terutama barang-barang retail, disusul oleh negara Amerika dan Australia.

Tingginya kegiatan ekspor dan impor yang kian marak membuat pemerintah terus berupaya meningkatkan penerimaan devisa dari bidang tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengatur kebijakan kegiatan melalui Sistem informasi Monitoring Devisa terIntegrasi Seketika (SiMoDIS) yang telah disepakati kerjasamanya antara Bank Indonesia (BI) dan juga Kementrian Keuangan (KEMENKEU), kerjasama tersebut bertujuan sebagai salah satu langkah penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan devisa impor agar lebih maksimal.

Dilihat dari sisi teknisnya, SiMoDIS akan mengintegrasikan informasi dokumen,barang dan uang melalui dokumen ekspor dan impor dari Direktorat Jenderal Bea Cukai dan data NPWP dari Direktorat Jenderal Pajak sehingga kegiatan bisnis pun mudah dipantau.

Dengan masih tingginya kegiatan ekspor dan impor maka BI dan KEMENKEU akan terus berkomitmen meningkatkan SiMoDIS lebih lanjut untuk kedepannya hingga tahap ke II pada tahun 2020. Perlu kita ketahui, nilai ekspor di Tanah Air pada periode akhir tahun 2018 mencapai US$15,80 miliar atau meningkat 3,59 persen dibanding periode akhir tahun 2017. Sedangkan untuk nilai impor Indonesia pada tahun 2018 mencapai US$17,62 miliar atau meningkat 23,66 persen dari tahun 2017.

Adapun barang-barang yang di ekspor Indonesia ke negara lain antara lain mesin, perhiasan, kayu/furniture, pakaian jadi, kendaraan bermotor, karet dan bahan bakar dan kerajinan. Sedangkan barang-barang yang di impor ke Indonesia banyak diimpor dari negara Cina yang sudah terkenal dalam memproduksi barang seperti barang-barang retail, spare part kendaraan, mesin, dan lainnya. Untuk bahan baku makanan juga banyak diimpor oleh negara Thailand, Vietnam, India, Malaysia, Australia dan Amerika.

Kiat Jitu Mengawali Bisnis Anda di Tahun 2019

Perkembangan bisnis jual beli online diprediksi masih akan terus berkembang pesat di Indonesia, hal tersebut ditandai dengan terus meningkatnya total pendapatan e-commerce Tanah Air dari tahun ke tahun. Seperti riset yang dikutip oleh Databoks.id memprediksi pada tahun 2016 hingga tahun 2022 kedepan nilai transaksi ritel di Indonesia akan terus tumbuh 133,5% senilai US$ 16,5 miliar atau sekitar Rp 219 triliun hingga tahun 2022.

Tentunya peluang tersebut menjadi kesempatan yang sangat positif bagi industri jual beli online khususnya di Tanah Air untuk terus mengembangkan sayap bisnisnya. Tidak hanya menjadi peluang bagi pebisnis saja namun maraknya jual beli online juga berdampak terhadap munculnya lapangan kerja baru.

Lalu bagaimana dengan tren bisnis di tahun 2019?

Dalam program “Ngobrol Sore Bareng Om Faizal” dalam channel Youtubenya bersama dengan para entrepreneurnya, membenarkan di tahun 2019 nantinya bisnis jual beli online akan terus lebih booming lagi daripada tahun-tahun sebelumnya. Selain itu juga akan banyak generasi muda di Indonesia akan berpikir untuk menjadi owner ataupun CEO. Tidak hanya itu saja, industri digital marketing (pemasaran digital) di Tanah Air juga turut berpengaruh sehingga akan lebih banyak bermunculan lagi karena banyaknya bisnis online yang bermunculan pada tahun 2019.

Bagaimana bisnis online bisa bersaing dengan kompetitornya?

Tidak bisa dipungkiri lagi berkembangnya bisnis online berdampak terhadap kelangsungan bisnis offline yang sinarnya terus meredup. Untuk itu, perlu adanya inovasi dan pembaruan bagi para pebisnis retail offline yang harus mengikuti arus perkembangan zaman salah satunya membuka juga jalur distribusi online. Bisa kita lihat toko-toko retail di pusat-pusat perbelanjaan seperti contohnya di ITC banyak yang menutup gerai offlinenya dan beralih ke platform online tetapi masih ada juga toko-toko yang bertahan membuka gerai offline nya dibarengi dengan penjualan secara online.

Namun bagaimana kita dapat bersaing dengan banyaknya jenis produk yang hampir mirip ataupun sama dengan produk kita bahkan lebih murah? Jawaban singkatnya adalah branding, dalam diskusinya Om Faizal menjelaskan sering kali para konsumen online membandingkan harga produk yang satu dengan harga produk yang lain dengan yang lebih murah sehingga perang harga antar penjual untuk menarik konsumen pun tak bisa terhindarkan

Untuk itu, setiap pelaku bisnis di tahun 2019 ini harus memikirkan branding produknya terutama para pebisnis yang menjual produk-produknya yang banyak dijual dipasaran. Dengan adanya branding tentunya persaingan harga antar produk tidak menjadi persoalan lagi bagi para pebisnis karena masing-masing produk memiliki kredibilitas dan target market yang jelas serta loyalitas para konsumennya terhadap produk itu sendiri.

Awal tahun menjadi momen yang tepat dalam membangun bisnis

Dalam menjalankan bisnisnya, bagi Om Faizal awal tahun menjadi momen yang tepat dalam mengevaluasi sebuah bisnis yang sedang ia jalankan ataupun bisnis yang akan dirintisnya. Dengan belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya kita tidak akan jatuh di kegagalan maupun kesalahan yang sama, seperti misalnya apakah pola bisnis yang kita jalani dalam berapa tahun ini cukup berkembang? Atau malah justru tidak berkembang. Dari hasil review tersebut kedepannya kita dapat memprediksi arah bisnis yang akan kita jalani perlu dirubah atau tidak.

Tahun Baru Keahlian Baru

Tidak hanya evaluasi saja, tahun baru jadi resolusi untuk menambah keahlian yang kita miliki. Dalam diskusi sesi terakhirnya Om Faizal menekankan kepada kita semua untuk perlu terus belajar, tidak hanya belajar dari masa lalu namun perlunya masing-masing individu dibekali dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Contohnya kita bisa belajar bahasa baru yang berhubungan dengan bisnis kita, bisa juga belajar tools-tools baru yang dapat menunjang bisnis. Tidak ada salahnya kita belajar hal baru yang positif agar bisnis kita berkembang bukan? Semakin banyak kita belajar ilmu baru semakin banyak bekal kita untuk menghasilkan pendapatan, “ tutur Faizal.